Buncis Kenya juga mudah ditanam dengan tingkat kegagalan rendah sebesar 20% dibanding buncis lokal. Dalam penanaman tak perlu penyangga kayu berlebih sehingga menekan biaya produksi, berbeda dengan buncis lokal yang tumbuh merambat sehingga memerlukan penyangga. Ditambah lagi iklim tropis Indonesia yang hampir sama dengan Kenya di benua Afrika.

Menurut Tatang, budidaya Buncis Kenya bisa mendapatkan hasil yang maksimal jika dilakukan di lahan dengan ketinggian 800-1.300 MDPL (meter di atas permukaan laut). Dalam setahun lahan budidaya bisa ditanami hingga puluhan kali, dan saat ini Tatang melakukan penanaman sekitar dua minggu sekali pasca panen.

Dalam budidaya, Tatang juga menggunakan mulsa sebagai penutup tanaman agar tak mudah rusak, dan sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman dan buah hingga besar. Kegunaan plastik mulsa lainnya sebagai penghambat tumbuhnya gulma di sekitar tanaman yang dapat menganggu pertumbuhan dan melindungi tanaman dari air hujan yang dapat menggerus tanah dan merusak bunga Buncis Kenya.

“Kalau bunganya sering terkena cipratan air hujan maka buah yang dihasilkan nggak maksimal. Bentuknya bisa keriting dan tak laku di pasaran,” jelas Tatang.

Dari budidaya Buncis Kenya ini, Tatang bisa meraup untung minimal Rp 30 juta per bulan dengan keuntungan bersih di atas 50%.

“Usaha budidaya Buncis Kenya menguntungkan karena biaya tanam yang murah, nilai jual yang stabil dan permintaan yang selalu meningkat setiap bulanya,” pungkasnya.